Rabu, 18 April 2012

Tentang Salido Kecil


Salido Kecil atau Salido Ketek dulunya juga pernah berganti nama menjadi Salido Sari Bulan, adalah sebuah desa kecil yang termasuk kedalam kangarian tambang kecamatan IV Jurai Pesisir Selatan Sumatra Barat. Untuk mengunjungi desa ini, bisa ditempuh lewat darat, sekitar 3 jam dari Bandara International Minang Kabau dan sekitar 30 menit dari kota Painan dengan mengendarai sepeda motor atau mobil. Salido Kecil sangat terkenal dengan  PLTMH(Pembangkit Listrik Tenaga MikroHidro) nya. Konon PLTMH tersebut dibangun pada jaman penjajahan belanda pada akhir abad ke 19 untuk menunjang kelistrikan perusahaan  tambang emas Gunung Harun.

Setelah tambang Gunung Harun ditutup karena merugi, listrik dari PLTMH Salido Kecil dimanfaatkan untuk pabrik Semen Indarung Padang. Pabrik Semen Indarung Padang memanfaatkan listrik PLTMH dengan membangun jaringan sepanjang 42 km. Pada tahun 1945 pengelolaan PLTMH dilakukan oleh PT PLN. Keadaan ini berlangsung sampai akhir 1959. Pada tahun 1959, sungai Salido Kecil meluap sehingga merusak kaki tiang penyangga pipa nya.

Sejak saat itu, PLTMH Salido Kecil ditinggalkan oleh PT PLN. Selama 20 tahun PLTMH Salido Kecil hanya berupa nama  saja sampai pada akhirnya PT Anggrek Mekar Sari merehabilitasi PLTMH tersebut. PT Anggrek Mekar Sari disarankan oleh Direksi PT PLN untuk membangun kembali PLTMH Salido Kecil. Kemudian saran tersebut dijalankan oleh PT Anggrek Mekar Sari melalui uji kelayakan dan perizinan untuk merehabilitasi PLTMH.

Untuk keperluan tersebut, Direksi PT PLN memerintahkan PT PLN wilayah III Sumbar Riau untuk membantu PT Anggrek Mekar Sari. PT Anggrek Mekar Sari mulai merehabilitasi sentral Salido Kecil pada akhir tahun 1978. Pada tahun 1980, PLTMH Salido Kecil diresmikan oleh Ibu Adam Malik. PLTMH tersebut sudah mulai beroperasi kembali dan mensuplai listrik ke rumah rumah masyarakat di sekitar desa Salido Kecil dan terkoneksi dengan jaringan PT PLN di Kayu Anggang Painan.

PLTMH ini mulai menjual listrik ke PT PLN pada tahun 1980 dengan harga Rp. 10,-/ KWH. Saat ini, penjualan listrik kepada PT PLN sebesar Rp. 441,85,-/KWh. Rehabilitasi PLTMH Salido Kecil beberapa kali dilakukan. Pada Januari 2006, rehabilitasi yang dilakukan meliputi perbaikan bangunan sipil serta penggantian sebagian besar peralatan elektro mekanik dan sistem kontrolnya.

Setelah direhabilitasi, PLTMH Salido Kecil berhasil memasok listrik ke jaringan tegangan menengah PT PLN dengan kapasitas sampai dengan 330 KW per unit dengan menggunakan dua turbin pelton. Interkoneksi dengan PT PLN ini mengacu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral mengenai pedoman Pembangkit Tenaga Listrik Skala Kecil Tersebar (PSK Tersebar). Dengan skema ini, pembangkit listrik dengan sumber energi terbarukan dibawah 1 MW, memungkinkan untuk dapat menjual listriknya kepada PT PLN.

Pada saat gempa tektonik terjadi pada tanggal 30 September 2009, beberapa kerusakan terjadi pada bagian sipil terutama pada forebay dan anchor block pada penstock. Kerusakan ini dapat ditanggulangi secara teknis oleh PT Entec Indonesia. Keberadaan PLTMH Salido Kecil yang terletak di Desa Salido Kecil, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat sangat bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Selain memasok listrik, PLTMH tersebut merupakan tempat studi banding dan pengembangan teknologi ketenagalistrikan dan energi terbarukan. PLTMH tersebut juga telah menyerap tenaga kerja dari penduduk lokal setempat. Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan memutuskan PLTMH Salido Kecil sebagai lokasi wisata Pesisir Selatan. Pada tahun 2010, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan juga bekerjasama dengan pengelola PLTMH yang difasilitasi oleh IMIDAP(Integrated Micro-Hydro Development and Application Program) atau pembangkit listrik tenaga mikrohidro  telah menetapkan PLTMH Salido Kecil sebagai Lokasi Demosite PLTMH On Grid.

Penetapan PLTMH Salido Kecil sebagai lokasi demosite menjadi contoh pembangunan PLTMH sistem interkoneksi. Upaya masyarakat untuk mempertahankan PLTMH Salido Kecil dilakukan dengan memperhatikan pelestarian lingkungan.

Oleh karena lokasi hutan sebagai penangkap air berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seibat, maka Pro Water, Kelompok Pecinta Alam Unand, Menwa Unand dan Bung Hatta, dan Walhi bekerjasama dengan masyarakat mengamankan catchment area di daerah tersebut. Selain itu, keterlibatan dinas kehutanan, pertanian, dan pemerintahan desa ikut berpartisipasi menjaga sumber air di daerah tersebut dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat secara intensif.

Tetapi sayang sekali hingga saat ini belum ada investor atau pelaku BISNIS yang mau menggarap potensi daerah ini sebagai tempat wisata yang profesional sehingga mamfaatnya benar benar bisa meggerakkan perekonomian masyarakat setempat, yang mana pada saat ini mayoritas masyarakat Salido Kecil masih menggantungkan mata pencarian mereka dari sektor pertanian dan berladang.

Dalmi Adamli
www.bisni-s.tk